MITOS SETELAH SUNAT

Mitos-mitos yang muncul dimasyarakat khususnya masyarakat tarakan tentang sunat atau setelah sunat cukup banyak, khitantarakan.com mencoba menjawab semua mitos tersebut dengan sedikit pendekatan ilmiah dan sesuai perkembangan jaman.


Banyak mitos-mitos yang terjadi berkaitan dengan cara sunat orang dahulu atau cara sunat kakek-kakek kita dahulu, cara mereka bersunat cukup sederhana, ada yang menggunakan kapak khusus, ada dengan bambu atau kayu ulin, sedangkan anestesi yang digunakan pun cukup sederhana, hanya dengan berendam disungai sebelum disunat. Dengan berendam terjadi vasokontriksi pembuluh darah pada penis yang akan disunat sehingga mengurangi rasa sakit saat akan dipotong.

Setelah penis dipotong perdarahan dihentikan dengan memberikan kopi atau daun-daun khusus yang telah dijampi-jampi atau dibacakan doa. Luka sunat tidak disatukan lagi atau tidak dijahit.

Mempelajari dan mendengarkan cara sunat kakek-kakek kita dahulu terasa ngeri dan  jika memperhatikan cara kerja mereka maka wajar banyak kejadian-kejadian seperti infeksi, bernanah, lama  sembuh, pingsan setelah sunat dan malah ada kematian pasca sunat menjadi hal yang sering terjadi. Karena minimnya pengetahuan maka muncul lah mitos-mitos yang dianggap sebagai penyebab terjadinya hal-hal tsb. Mitos- mitos tersebut ada yang benar ada juga yang tidak sesuai dengan pengetahuan.

Khitantarakan.com mencoba menggali sebab-sebab mitos dan mencoba menjawab dengan sedikit pendekatan ilmiah.

Jangan terinjak tahi ayam / kotoran ayam

Mitos jangan terinjak tahi ayam ada benarnya karena tahi ayam bisa menyebab kan infeksi jika terkena luka namun jika terinjak dan tidak terkena luka maka tidak apa-apa, mungkin yang dimaksud kakek-kakek kita dahulu jangan sampai tahi ayam terkena luka, yang anehnya kenapa hanya tahi ayam saja, kenapa tidak semua tahi / kotoran sapi, kerbau, burung misalnya karena semua kotoran bisa menyebabkan infeksi pada luka, khitantarakan.com pernah bertanya tentang masalah ini kepada salah satu orang tua yang kebetulan khitantarakan.com sunat, beliau menjawab karena binatang yang paling akrab dengan manusia pada jaman dulu itu ya ayam, dan tahi ayam paling banyak dipekarangan rumah malah ayam bisa sering masuk rumah...hehehe...silakan pembaca analisa sendiri...

Jangan makan telor ayam

Mitos jangan makan telor ayam ini sebenarnya tidak perlu karena pada dasarnya protein pada telor sangat berguna untuk penyembuhan luka sunat, namun ada beberapa orang yang memang alergi terhadap telor sehingga ketika makan telor menyebabkan merah-merah pada kulit atau demam. Mungkin saja berdasarkan pengalaman kakek-kakek kita dulu terkena anak yang alergi telor jadi muncul lah mitos ini.

Jangan dilihat perempuan

Mitos ini sebenarnya ada benarnya, karena ditakutkan jika melihat perempuan khususnya perempuan muda bisa menyebabkan ereksi dan jika melihat cara sunat orang dulu yang tanpa jahit maka akan sangat beresiko perdarahan, namun dijaman sunat moderen sekarang sudah tidak dikahawatirkan jika terjadi ereksi lagi karena luka sunat sudah dijahit dan penggunaan obat analgetik menyebabkan minim rasa sakit.

Melihat mitos-mitos tersebut bukan berarti kita sebagai generasi muda harus merasa sombong dan tidak menghargai budaya kakek-kakek kita dahulu, dan malah kita sebagai generasi muda harus mengetahui mitos-mitos tersebut dan menyikapi mitos tersebut dengan bijak, bukan menganggap budaya mitos tsb sebagai hal yang salah, namun penggunaan mitos tersebut sangat lah tepat jika dizamannya dan sekarang penggunaan mitos tsb dizaman sekarang menurut khitantarakan.com sudah kurang tepat namun mitos tersebut wajib hanya diketahui saja.


By: www.khitantarakan.com